Rabu, 18 Juni 2014

Mencari Hati yang Bahagia

Seorang ibu menelepon saya, menceritakan kesedihannya.
Hidupnya tidak bahagia karena suami yang terkesan nggak peduli, nyaris tidak ada lagi komunikasi yang berarti. 

Ada masalah lain, hutang yang entah bagaimana menumpuk besar, dan suami menyalahkan istri dan tidak mau membantu melunasi. Di tengah masalah ini, ada teman sekantor, laki-laki yang mulai memberi perhatian dan tahu-tahu menjadi dekat dan membuatnya jatuh cinta.

Dari sedikit usia yang telah saya lalui, saya belajar, bahwa
kebahagiaan itu tidak jauh, dia ada di hati kita yang dipenuhi syukur.

Kita sulit bahagia kalau setiap hari hanya melihat keluarga-keluarga
lain yang bahagia dan melimpah secara materi lalu membandingkannya dengan diri, dan mulai menghitung kekurangan dalam diri, kekurangan dalam keluarga. Sibuk membuat list apa yang tidak kita miliki setiap hari.

Bagaimana bisa bahagia, bagaimana bisa semangat untuk berbuat dan kreatif, juga membangun hari-hari yang produktif bagi muslimah bisa lahir jika kita tidak mulai fokus pada apa yang kita miliki dan mensyukurinya.

Teringat ibu tadi, permasalahannya memang tidak sedikit. Sebagian kita merasa bahkan masalah kita luar biasa besar, antara lain karena kita kurang memperhatian masalah-masalah orang lain.

Seorang muslimah yang baru saja divonis terkena kanker ovarium dan harus melalui kemoterapi selama 6 x, persekalinya membutuhkan biaya 6 jt rupiah.

Seorang ibu, yang baru delapan belas hari lalu kehilangan anaknya,
yang dipanggil Allah kembali dalam usia begitu dini.

Seorang istri yang baru saja menerima vonis bahwa suami yang selama ini begitu penuh kasih dan sayang, sangat sehat dan tidak pernah sakit seumur hidupnya, begitu tiba-tiba mendapatkan vonis bahwa kedua ginjalnya rusak dan harus cuci darah seumur hidupnya (Semoga Allah menguatkan mb Sari, suami dan anak-anak dalam melalui ini, amin...)

Seorang istri, saya kebetulan sempat menemuinya di rumah sakit. Yang dalam waktu bersamaan pada ramadhan lalu, mengalami kecelakaan dan harus kehilangan suami dan anak sulungnya, dan berjuang dengan kandungan yang menginjak 7 bulan, dalam keadaan luka parah dan harus melalui beberapa kali operasi.

Melihat permasalahan orang lain, dan mulai menghitung setiap nikmatNya yang kita miliki hari ini, adalah cara untuk menjadi pribadi bersyukur. Rasa syukur ini akan mengantarkan kita pada kebahagiaan, yang memberi atmosfir sehat bagi kita untuk melihat 'aset' yang kita miliki dan bagaimana menyalurkannya menjadi sesuatu yang kreatif dan produktif, dan bermanfaat bagi umat.

Ada begitu banyak anugerah, yang terselip di hari-hari kita, setiap
hari, setiap menitnya, setiap detiknya.

Tubuh yang sehat, kemudahan dalam beribadah, alhamdulillah.

Suami yang setia, mungkin tidak romantis dan mengucapkan I love you berkali-kali, atau membawakan kita bunga atau cokelat dalam wadah berbentuk hati, namun telah sungguh-sungguh menafkahi dan mengisi hari-hari bersama anak-anak.

Anak-anak, sumber kebahagiaan kita yang mungkin nakal dan menguras kesabaran, tetapi alhamdulillah dalam kondisi sehat dan lincah. Keberadaan orang tua yang masih menemani hari-hari kita... kakak dan adik.

Rumah tempat berteduh, mungkin kecil, ventilasinya tidak nyaman,
banyak nyamuk, tetapi alhamdulillah telah menjadi saksi kebersamaan keluarga.

Makanan yang masuk ke tubuh kita setiap hari Air... udara...
Akal yang membantu kita berpikir untuk mengatasi masalah demi masalah setiap hari.

Dan nikmat islam dan iman. Yang membuat kita tahu betapa sulit pun keadaan yang dihadapi, betapa pun besar ujian yang menimpa, kita tahu kita tidak pernah sendiri, sebab Allah ada, dan Dia dekat.

Saya telah menulis banyak cerita tentang perempuan: Catatan Hati Seorang Istri, Karenamu Aku Cemburu, Catatan Hati Bunda, Catatan Hati di Setiap Sujudku, La Tahzan The real Dezperate Housewives, La Tahzan for Mothers, Istana Kedua, etc.

Namun tidak ada maksud saya untuk mengajak psegenap perempuan di tanah air untuk tersungkur menyesali nasib buruk mereka: suami yang mungkin pernah selip dan tidak setia, ujian-ujian lain yang seakan sulit untuk ditanggung.

Tetapi justru dari berbagai kisah itu
saya ingin mengajak sesama perempuan, untuk tetap dalam syukur, sambil kita lipatgandakan kesabaran dan keikhlasan.

Sebab hidup tidak berhenti di sini. Ada akhirat di mana segala
ketidaksempurnaan dan kekurangan yang kita lalui selama hidup di
dunia, akan tercukupi surga-Nya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar