Senin, 18 November 2013

JURNALISTIK [OPINI]

Rakyat Bukan Barang Dagangan
SEORANG perempuan muda, dengan potret kemiskinan di wajahnya. Rambut tipis dan kusam.Wajahnya adalah luka yang pedih, tak ada pancaran masa depan di dua bola matanya. Dua tangannya disatukan borgol besi. Tertunduk di bangku pesakitan, bersandal jepit hitam. Bibirnya tak henti lantunkan doa dalam syair lirih yang tak bersuara.

”Yang Arif, perempuan muda ini adalah korban perdagangan manusia. Dia berasal dari daerah termiskin di Indonesia,” begitu kata sang pembela di ruang sidang Mahkamah Kota Bharu, Klantan, Malaysia.

Perempuan muda itu bernama Wilfrida Soik, asal Belu, Nusa Tenggara Timur. Gadis miskin pencari batu, yang hanya sekolah sampai kelas lima sekolah dasar. Dikirim ke Malaysia manakala Indonesia sedang menyatakan moratorium, tak boleh ada pengiriman PRT ke Malaysia. Moratorium itu ditetapkan pemerintah pada 29 Juni 2009. Pada Oktober 2010 Wilfrida diberangkatkan ke Malaysia, usianya masih 17 tahun. Namun, dokumen resmi negara menyatakan saat itu ia berusia 21 tahun. Wilfrida tidak sendiri, pada bulan dan tahun yang sama, data membuka tabir. Tak kurang dari lima ribu PRT baru asal Indonesia datang dan bekerja di Malaysia. Artinya, jalan yang ditempuh bukan jalan resmi meski dokumen seolah resmi. Jalan itu adalah jalur perdagangan manusia.

Hakikat apa yang ada di balik peta ekonomi seperti ini yang katanya akan memberi keuntungan karena bonus demografi? Jika demikian adanya, apa yang dibanggakan dari bonus demografi tak lebih sebuah fatamorgana. Seolah peta ekonomi yang diciptakan sistem ekonomi pasar adalah hal yang menakjubkan. Teori-teori akademis dari para pakar dihadirkan seolah memberikan harapan karena memberi kesan ilmiah. Membuai, tetapi sesungguhnya menindas.

Dalam konteks peradaban yang disebut zaman globalisasi, komodifikasi perempuan dianggap hal yang lazim. Lahirnya kemajuan teknologi dan perkembangan kehidupan modern justru melahirkan persepsi yang miris bagi perempuan: komoditas yang bisa diperdagangkan dan diperjualbelikan.

Indonesia berada pada posisi kedua di dunia sebagai negara tempat terjadi tragedi perdagangan manusia. Indonesia dikenal sebagai negara pengirim, negara transit, sekaligus penghasil perdagangan manusia.

Mayoritas korban perdagangan manusia adalah perempuan (80 persen) dengan tingkat pendidikan mayoritas SD (30,64 persen). Provinsi dengan jumlah korban terbesar Jawa Barat 1.218 orang (26,9 persen), disusul Kalimantan Barat (15,62 persen), Jawa Tengah (12,62 persen), Jawa Timur (11,85 persen), NTB (6,11 persen), Sumatera Utara (5,85 persen), dan NTT (5,29 persen). Penyebab korban terperangkap, paling utama karena masalah ekonomi (87,65 persen). Mereka mengalami ”kerja paksa” dengan berbagai kekerasan: ekonomi, fisik, psikologis, hingga seksual, bahkan tak jarang berujung penghilangan nyawa. Wilayah kerja dan profesi para korban mayoritas sebagai PRT (56,99 persen), prostitusi (16,53 persen), nelayan (5,93 persen), perkebunan (5,15 persen), pelayan (2,38 persen), pabrik (2,22 persen), dan konstruksi (1,99 persen).

Negara yang menampung dan mempekerjakan korban perdagangan manusia asal Indonesia adalah Malaysia serta beberapa negara di Timteng dan ASEAN. Para korban dibawa melalui titik embarkasi Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jakarta, Surabaya, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Para pelaku perdagangan manusia internasional bekerja sama dengan pelaku di Indonesia. Pelaku bisa calo atau broker, oknum di PJTKI, teman sendiri, anggota keluarga, tetangga. Tentu mereka tak bekerja sendiri, perlu ”dokumen negara” untuk membawa korban, di dalam maupun ke luar negeri. Dengan demikian, disinyalir ada keterlibatan oknum aparat pemerintah dari level desa hingga pusat. Dalam beberapa kasus, terindikasi keterlibatan oknum aparat keamanan.

“ Sungguh miris ternyata melihat keadaan manusia pada saat ini. Mereka menghalalkan segala cara hanya untuk memuaskan diri mereka masing-masing tanpa memikirkan nasib orang lain. Saya mengajak semua pihak terlibat dalam memerangi perdagangan manusia. Wilfrida sedang menunggu vonis digantung hingga mati karena dakwaan pembunuhan terhadap majikan, tanpa diungkap kekerasan terhadap dirinya yang melatarbelakangi tindakannya. Biarlah proses hukum berjalan, tak boleh intervensi. Tapi, tentu saja, jangan biarkan ia sendiri. Pendampingan hukum dari pemerintah dan dukungan dari semua pihak di Indonesia sangat berarti bagi Wilfrida. Di sisi lain, Wilfrida telah membuka jalan bagi kita semua, khususnya pemerintah, untuk membongkar sindikat perdagangan manusia. Butuh kerja keras untuk menghadapi para pelaku. Beri sanksi berefek jera kepada siapa pun pelakunya.

Pertumbuhan ekonomi yang digembar-gemborkan ternyata menghasilkan kemiskinan yang menjadikan rakyat komoditas. Perdagangan manusia di Indonesia bukan rekaan belaka. Pilihannya, akhiri sindikat perdagangan manusia atau Wilfrida-Wilfrida lain akan antre menuju tiang gantungan. Jelas, bukan peradaban seperti ini yang kita impikan sebagai bangsa merdeka tetapi kita butuh sistem ekonomi yang memberdayakan, bukan memperdaya rakyat.”


Rabu, 13 November 2013

JURNALISTIK [ BERITA INVESTIGASI ]

WASPADAI PEMALSUAN TELUR

Harga telur ayam kampung dijual lebih mahal dibandingkan telur ayam negri karena khasiatnya yang di percaya membantu mengembalikan stamina bagi yang mengkonsumsinya. Kalau ayam negri lebih enak untuk didadar dan digoreng, orang lebih suka mengkonsumsi telur ayam kampung denga cara ditelan mentah-mentah atau dicampur dengan jamu. Tapi, sadarkah kita bahwa telur ayam kampung yang kita beli itu asli atau palsu? Nah sekarang saya akan membahasnya.

Saat ini, sudah banyak pedagang yang menukarkan telur ayam kampung dengan telur ayam negri yang lebih murah. Caranya adalah sebagai berikut:

         1. Siapkan wadah.
         2. Lalu wadah diisi air dan bahan kimia.
         3. Letakkan telur diwadah.
         4. Diamkan / rendam telur selama satu jam lalu keringkan.

Telur yang dihasilkan dengan cara tadi akan mirip dengan telur ayam kampung yang asli. Tetapi kita tetap dapat membedakan telur ayam kampung yang asli dan palsu dengan cara :
-          Dilihat dari bentuk : Telur ayam kampung asli lebih kecil dan licin, sementara telur yang palsu akan terasa lebih kasar.
-          Dilihat dari isi: Telur ayam kampung asli kuning telurnya lebih banyak dan warna kuning telur kemerahan. Sedangkan telur palsu, kuning telur lebih sedikit dan warna kuning telurnya kuning terang.

Tidak hanya telur ayam kampung saja yang dipalsukan tetapi telur asin yang biasa kita beli juga sudah banyak dipalsukan. Telur asin yang seharusnya dibuat dari telur bebek dipalsukan menjadi telur ayam. Cara pemalsuannya beragam. Mulai dari 3 hari bahkan ada yang satu hari, padahal sebenarnya telur asin yang asli baru bisa dijual dua minggu kemudian. Tentunya ini sangat menguntungkan bagi mereka yang berhasil menipu masyarakat. Harga telur asin dipasaran sekarang ini sekitar Rp.4000 rupiah per butir sedangkan telur ayam hanya Rp.1500 rupiah per butir. Berikut ini cara pedagang memalsukan telur asin :

1.Mereka memilih telur ayam yang ukurannya mirip dengan ukuran telur bebek.
2.Lalu membeli cat tembok warna telur asin yaitu hijau tosca.
3.Cuci telur hingga bersih supaya cat menempel di telur.
4.Campurkan cat,garam dapur, dan garam kasa.
5.Rendam telur selama 3-5 hari.
6.Cuci dan lap telur hingga bersih.
7.Lalu mereka memberikan tepung kanji untuk mengelabuhi pembeli



Ada lagi satu cara membuat telur ayam menjadi telur asin:

   1. Cuci telur
   2. Rendam telur dengan air cuka cukup ujungnya saja sekitar 30 mnt
   3. Ketika ujungnya sudah melunak lalu disuntik air garam (takaran tdk tentu)
   4. Rebus
   5. Dinginkan
   6. Beri warna dengan cat sablon
   7. Olesi tepung kanji

Tentunya telur seperti ini sangat tidak layak untuk dibeli, karena tidak bersih dan tidak terjamin kesehatannya. Tapi tetap ada cara agar kita tidak tertipu dengan pemalsuan telur asin ini :

  1. Cek apakah ada bercak, periksa tepung pembalutnya
  2. Isi yang asli kuning telurnya kemerahan sedangkan yang palsu kuning keputihan karena dari telur ayam.

Senin, 11 November 2013

JURNALISTIK [ FEATURE ]

Knowing Primate Species at Schmutzer Primate Center













Schmutzer Primate Center, Ragunan Zoo, Jakarta.



T
o fill the holiday yesterday, I plan to go to a place that can entertain and increase my knowledge. And I also found a place that suits me. I also told my friend to come with me to the Ragunan Zoo.

Once I arrived there, I toured the zoo area seen all kinds of animals there. When I'm driving around in the area of ​​the zoo there is one place that makes me interested to visit the Schmutzer Primate Center.

There we can see different kinds of primates, ranging from apes, monkeys, gorillas, orangutans, and many other primates. In fact we know that gorillas and orang-utans are different. Not the same as what we thought all along.

Schmutzer Primate Center occupies an area of ​​13 acres, and has 20 primate species originating from within and outside the country, and in which there are 80 species of trees that were given board description of each tree and its Latin name of the plant species.


                                                                Gorilla, one of primate in Schmutzer Primate Center.
Schmutzer Primate Center is made as natural as possible suitable habitat for these animals early. The orangutans and gorillas are not in cages, if they remain in the wild. Even to get into this place, we have to abide by a few rules that have been written on the front of this region.

Regions Schmutzer Primate Center also has other equipment, such as museums, libraries, theaters and cinemas little about primates in Indonesia and the world. At this location we can perform a variety of exciting events that we can do with family or friends, to enjoy the facilities available there fit the appointed hour. For example, watching a


prime documentary, reading a book in the library, and the most anticipated by the visitors usually is feeding time. That is the time to feed the primates. Because we can help provide a meal with fruits primates that have been prepared by officials there. From the data that the authors get at this location, hours of primate feeding is at 09:00; 12:00, and 15:00. Well, for those of you who would like to participate live just adjust the hour at the specified time.

To get into the Schmutzer Primate Center, you do not need to spend a lot of money. Only Rp 7,500 for adults and Rp 5,000 for children. Besides we can eliminate fatigue because our daily activities, we can also gain knowledge about primates. Especially for the kids, they can play while learning about the kinds of animals.

There is no harm if we want to learn about nature and the inhabitants of other under heaven. Eventhough we as creatures of God given advantages in thinking with a conscience that makes the difference between us and primates or other creatures. In addition, we have helped to preserve them so that they are not extinct species.


Minggu, 10 November 2013

JURNALISTIK [ NEWS ]


AYO !!! INDONESIA BISA

Pertandingan Timnas U-19 Indonesia melawan salah satu kekuatan macan asia, Korea selatan yang di helat di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada tanggal 12 Oktober 2013 pada akhirnya di menangkan Timnas Indonesa dengan skor akhir 3-2. Suatu pencapaian yang bisa dibilang spektakuler, amazing dan bombastis tentunya. Mengingat Korea Selatan adalah juara 14 kali dalam perhelatan Piala Asia kategori U-19. 

Kemenangan ini menyempurnakan poin Timnas menjadi 9 poin, dan dengan jumawa Timnas  bertengger sendirian di puncak klasemen, setelah pada pertandingan sebelumnya mengalahkan laos dengan skor 5-1, juga Filipina dengan skor 2-0. Ini adalah suatu moment kebangkitan bagi dunia persepakbolaan Indonesia. Setelah belum lama ini Timnas U-19 juga menjadi juara di ajang AFC.

Di Stadion yang di hadiri sekitar 40.000 ribu penonton itu, Evan Dimas berhasil mencetak hattrick pertamanya. Sekaligus menjadi pahlawan kemenangan Timnas.

Pelatih Timnas U-19 Indra Sjafri pun tak bisa menyembunyikan kegirangannya. 'Korea kita kolongin, kita macam-macamin. Sekarang raksasa Asia adalah Indonesia,' ujar Indra saat konferensi pers usai pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan Jakarta, Sabtu (12/10) malam.


Mereka bermain begitu spartan di bawah guyuran hujan yang sejak sore membanjiri Jakarta. Hingga pertandingan pun sempat di hentikan beberapa menit karena kondisi lapangan yang sudah seperti sawah. Ini menjadi koreksi tersendiri, perlunya perawatan yang lebih intensif terhadap kondisi kondisi lapangan di Indonesia. Apalagi ini adalah pertandingan yang bertaraf internasional.


Terlepas dari itu semua, Evan Dimas CS sudah memberikan tontonan yang menghibur. Mereka bermain apik, bermain layaknya tiki taka barcelona. Coach Indra Sjafri menyebutnya “pepepa”, pendek pendek panjang. Itulah gaya bermain Timnas U 19 yang sudah banyak menelan korban.